Minggu, 01 Januari 2017

Wisata Melukat: Perspektif Air Pada Era Kontemporer oleh I Made Gede Anadhi

Melukat yang sudah menjadi Gaya Hidup Masyarakat Bali Tradisional rupanya kembali dilirik sebagai gaya hidup baru bagi kaum metropolis. Kegiatan berbau spiritual ini rupanya dipandang mampu menjawab kedahagaan Masyarakat Kontemporer Bali akan kebutuhan hakiki hidup mereka. Ramainya kedatangan mereka pada sentra-sentra air suci berupa pancuran untuk melukat atau sekedar berekreasi ditangkap sebagai sebuah peluang usaha baru bagi desa-desa yang memiliki potensi air tersebut. Wisata melukat-pun kemudian menjadi ikon yang dipromosikan lewat berbagai media dan berproses dalam berbagai bentuk sebagai wujud komodifikasi air.

Perspektif Masyarakat Bali era tradisional yang sangat mensakralkan air sebagai bagian dari setiap jenjang kehidupannya. Bahkan disetiap upacara keagamaan keberadaan air selalu menyertai sebagai suatu komponen utama yang harus ada. Zaman bergerak terus, globalisasi tidak terbendung memengaruhi berbagai Sendi Kehidupan Masyarakat Bali termasuk sisi ritual keagamaannya. Perubahan epistemologi sosial ini rupanya telah menggeser Kognitif Masyarakat Bali dari perspektif sakral menjadi profan. Air dengan segala komponen ikutannya kemudian dipandang sebagai objek yang potensial untuk dikelola sebagai komoditi. Ritual yang melibatkan air pun kemudian tidak luput dari komodifikasi.

Detailnya lihat di link berikut:
https://www.academia.edu/25805627/Wisata_Melukat_Perspektif_Air_Pada_Era_Kontemporer

Anda punya penelitian yang belum dipublikasikan? Buruan sebelum penelitiannya didahului oleh orang lain, sebab pemikiran seseorang lebih sering memiliki ide yang sama, tetapi yang menang adalah yang pertama kali memublikasikannya, segera gabung di: https://www.facebook.com/groups/StudiKulturalIndonesia/


Tidak ada komentar:

Posting Komentar